Gereja Laham, Pusat Misi Pertama di Kalimantan Timur

Laham di Mahakam Ulu, Kutai Barat dikenal sebagai Pusat Misi Pertama di Kalimantan Timur. Misionaris Kapusin dari Vikariat Borneo yang berpusat di Pontianak pertama menginjakkan kaki di Laham, tahun 1907 untuk mulai berkarya.

Lalu, bagaimana tantangan dan per­kembangannya setelah 100 tahun karya Misi Gereja?

Perjalanan ke Laham dimulai dari Kecamatan Tering, di sana terdapat Gereja Keluarga Suci Tering, di seberang Sungai Mahakam. Tering merupakan jalan darat terakhir dari Kota Samarinda, sekitar sehari semalam naik kapal biasa. Dari dermaga Tering, jam 10.00 pagi, lalu ber­ingsut dengan speedboat berpenumpang 12 orang.

Setelah menyusuri Sungai Mahakam selama dua jam, sampailah di dermaga Laham.
Der­maga hanya berupa sebuah pondok apung dengan beberapa balok kayu besar di depannya. Di belakang pondok apung terdapat sebuah balok kayu untuk meniti ke daratan. Selama dalam perjalanan, terlihat di kiri kanan sungai bekas penebangan hutan dan sejumlah perusahaan tambang batubara.

Begitu naik ke pinggir sungai, tampaklah Gereja Hati Kudus Yesus Laham yang hanya berjarak 50 meter. Laham merupakan kota kecamatan yang masih sepi, jaringan PLN belum ada. Lampu penerangan penduduk hanya mengandalkan tenaga surya. Komunikasi antarwarga dan komunikasi keluar daerah menggunakan HP Telkomsel dengan sinyal kartu AS dan Simpati.

Justru dalam kondisi yang serba terbatas inilah, Pastor Habing Lawai Pr mulai berkarya sebagai imam pertama setelah Paroki Hati Kudus Yesus ini dibuka kembali oleh Uskup Agung Samarinda, Mgr Sului Florentinus MSF, pada 8 Juli 2007.

Tonggak sejarah
Walau perkembangan paroki ini tidak pesat, hingga tahun 2010 jumlah umatnya 1.360 jiwa. Stasi hanya dua, yaitu Stasi Laham dan Stasi Long Lawang. Umat juga kurang aktif di Gereja, namun menjadi tonggak sejarah Gereja Kaltim.

Dari tahun 1907, paroki ini dilayani para misionaris Kapusin Belanda hingga 1938. Tahun 1926, datanglah misionaris MSF, pengelolaan misi pun berangsur-angsur dilanjutkan para imam MSF. Dari Laham, para misonaris mewartakan Injil sampai ke Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, dan Tarakan. Baru setelah Perfektur Apostolik Bajarmasin didirikan, misi Laham diserahkan kepada MSF. Karena wilayah misi ini dinilai kurang strategis, maka tahun 1932, pusat misi dipindahkan ke Tering.

Jejak peninggalan misionaris awal yang masih tampak hingga sekarang, adalah gereja (sudah direnovasi) dengan tabernakel kuno, Sekolah Dasar Katolik Laham, yang dirintis tahun 1911.

Bahkan, misi Laham ini sempat mengalami kekosongan atau tanpa imam yang menetap di pastoran selama puluhan tahun. Selain karena umat di paroki ini kurang berkembang, juga lantaran tenaga pastoral/imam yang terbatas. Seorang tokoh umat sekaligus tokoh adat Kampung Laham, Martinus Helak (73), mengakui kekosongan imam di parokinya dialami sejak tahun ’70-an hingga 2007. Kemudian, pusat paroki dipindahkan ke Paroki St Maria Long Hubung. Sedangkan pelayanan untuk umat di paroki ini dirangkap dari paroki tersebut dengan kegiatan Misa sekali sebulan.

Merasa disamakan dengan pelayanan stasi, umat Paroki Laham mengajukan permohonan kepada Uskup Agung Samarinda agar status paroki dikembalikan seperti semula, yakni dilayani oleh pastor yang menetap di paroki, dengan mempertimbangkan nilai kesejarahan Laham di awal misi. Setelah dikaji dan mendapat dukungan para imam, Uskup pun menyetujui untuk membuka kembali Paroki Laham. Umat juga diminta kesanggupannya untuk mampu menghidupi Gerejanya atau parokinya sendiri. Dengan kata lain, mandiri.

Dalam waktu setahun, pertengahan 2006-pertengahan 2007, seluruh umat di Laham bekerja keras bergotong-royong merenovasi sekaligus memperluas gereja, membangun pastoran, dan taman doa lengkap dengan gua Maria serta jalan salibnya sebagai tempat ziarah. Biaya pembangunan diperoleh dari bantuan pemerintah Kabupaten Kutai Barat.

Ketiga bangunan itu diresmikan dan diberkati oleh Duta besar Vatikan Mgr Leopoldo Girelli, Uskup Agung Pontianak Mgr Hieronimus Bumbun OFMCap, Uskup Agung Samarinda Mgr Sului Florentinus MSF, dan Bupati Kutai Barat Ismail Thomas pada perayaan 100 tahun karya misi di Kaltim, pada 8 Juli 2007 lalu, sekaligus pembukaan kembali Paroki Laham.

Tahun berikutnya, 2008, Pastor Habing Lawai Pr yang saat itu masih dalam masa istirahat karena sakit, ditunjuk Uskup menjadi pastor paroki pertama setelah vakum puluhan tahun. Walau asli Laham, Pastor Habing yang rumah orangtuanya hanya berjarak sekitar 25 meter dari gereja, tetap tinggal di pastoran yang berjarak sekitar 100 meter, tepat di ujung Desa Laham. Setelah pastoran, tak ada lagi rumah. Di sana hanya ada hamparan semak belukar dan ladang penduduk. Karena di Laham belum ada jaringan listrik, paroki menggunakan genset untuk penerangan di malam hari hingga jam 23.00, lalu disambung penerangan lampu bertenaga surya seperti rumah warga lainnya.

Meski Paroki Laham ini mungil dan sempat tanpa imam, namun berperan besar, yakni sebagai tonggak sejarah atau cikal bakal pertumbuhan karya misi di Keuskupan Samarinda, Kalimantan Timur, Keuskupan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dan Keuskupan Tanjung Selor, Kalimantan Timur. Karena dari Laham para misioaris awal menebar Injil hingga Samarinda, Banjarmasin, dan Tarakan.

Dari perkembangan misi Laham, selain telah menumbuhkan banyak stasi, juga sebagai cikal bakal berdirinya keempat keuskupan di atas. Dari pendidikan sekolah Katolik dan asrama yang didirikan para misionaris telah melahirkan banyak tokoh Katolik yang kini banyak berkarya di pemerintahan dan masyarakat. Tidak sedikit pula di antara mereka yang menjadi imam, biarawan-biarawati, bahkan uskup, yakni Almarhum Mgr Yulius Aloysius Husin MSF, Uskup Palangkaraya, dan Mgr Florentinus Sului MSF, Uskup Agung Samarinda.

Dari data Buku Gereja tahun 2009, jumlah umat tahun 2007 di Keuskupan Banjarmasin, 18.084 jiwa, dari jumlah penduduk 3.427.213 jiwa. Mereka tersebar di sembilan paroki. Jumlah umat di Keuskupan Tanjung Selor 35.319 jiwa, dari jumlah penduduk 540.000 jiwa. Umat tersebar di 14 paroki. Sementara di Keuskupan Palangkaraya, umatnya berjumlah 64.053 jiwa dari jumlah penduduk 2.004.376 jiwa.

Jumlah umat di Keuskupan Agung Samarinda 128.412 jiwa, dari penduduk 2.450.558 jiwa. Mereka tersebar di 25 paroki dan enam paroki tanpa pastor. Paroki-paroki tersebut terbagi dalam tiga kevikepan, yaitu Kevikepan Pantai, Kevikepan Mahakam Tengah, dan Kevikepan Mahakam Ulu (Sepuluh paroki dan enam paroki tanpa imam). Sepuluh paroki tersebut adalah Paroki Laham, Tering, Long Hubung, Long Pahangai, Barong Tongkok, Tiong Ohang, Ujoh Bilang, Muara Lawa-Lambing, Melapeh, dan Paroki Melak. Sedangkan paroki tanpa imam yang disebut paroki administrasi adalah Paroki Engkuni, Long Isun, Long Apari, Mamahak Besar, Long Lunuk dan Paroki Long Pakaq. Mereka dilayani oleh para pastor dari paroki terdekatnya.

Kurang aktif
Sejauh pemantauan HIDUP, November 2010 lalu, di lima paroki Kevikepan Mahakam Ulu, yakni Paroki Laham, Tering, Melapeh, Barong Tongkok, dan Paroki Muara Lawa Lambing), masing-masing paroki memiliki tantangan dan keunikan tersendiri.

Namun, secara umum, tantangan pastoral yang dihadapi para pastor, di antaranya masih ada sebagian umat yang bergantung pada Gereja atau pastor sentris, adanya sikap lebih suka menerima daripada memberi sebagai warisan para misionaris zaman dulu, yang hampir segalanya dilayani Gereja. Akibatnya, mereka kurang aktif dalam kegiatan menggereja. Karena mayoritas umat dari suku Dayak di mana mereka terbiasa berladang secara berpindah-pindah, maka mereka lebih suka mengutamakan mengurus ladang daripada Misa pada hari Minggu dan memberikan kolekte, apalagi Misa harian. Selain itu, masih banyak umat suku Dayak yang penghayatan iman Katoliknya masih tercampur dengan kepercayaan adat istiadatnya, seperti masih adanya praktik pengobatan ke dukun (belian), umat masih mengedepankan perkawinan adat daripada nikah di gereja. Itu merupakan dampak dari masih kurangnya pemahaman umat terhadap iman Katolik alias Katolik KTP. Sebagian umat tak biasa mengaku dosa, karena takut dosanya disebarluaskan.

Juga terbatasnya tenaga pastoral di paroki-paroki yang luas, dan banyaknya umat di stasi-stasi yang harus dilayani. Contohnya, dari data 2009, seorang pastor di Paroki Muara Lawa yang berusia 53 tahun harus melayani 2.555 umat yang tersebar di 27 stasi dan dua lingkungan. Kebanyakan stasi hanya bisa dilayani melalui sungai, sebagian lain jalan darat non-aspal. Stasi terjauh 70 km dari paroki. Hal serupa terjadi di Paroki Barong Tongkok, di mana seorang imam berusia 55 tahun harus melayani 7.406 umat di 17 stasi, delapan lingkungan dalam kota, ditambah tiga stasi yang dihidupkan kembali, yakni Stasi Damar, Tuncume, dan Stasi Gesaliq. Stasi Lompat Dahu merupakan stasi terjauh yang berjarak 50 km, dan daerah banjir, serta jalan non-aspal. Di dekat jembatan menuju stasi inilah, pastor paroki ini hampir tenggelam akibat banjir.

Faktor alam juga ikut mempengaruhi pelayanan pastoral. Jika banjir besar melanda paroki dan sungai meluap, kegiatan pastoral bagi umat bisa ter­henti, seperti di Paroki Muara Lawa. Selain itu, ada ancaman perluasan perkebunan sawit dan tambang batubara di sekeliling paroki ini. Dampaknya, sumber alamnya terkuras habis, umat paroki pun pindah ke lokasi lain mencari penghidupan baru.

Syukurlah, ada perkembangan baru di Paroki Barong Tongkok, yakni adanya tenaga imam baru, Pastor Hardinaus Usat MSF. Paroki Muara Lawa juga memperoleh imam baru, yakni Pastor Yosep Pati Mudaj MSF. Keduanya ditahbiskan pada 19/9 lalu.

Pastoral murah hati
Mengingat luasnya wilayah pelayanan umat di stasi-stasi, sebagian hanya bisa ditempuh melalui jalan air, seperti sungai. Sebagian lagi ditempuh dengan jalan darat dengan kondisi jalan tanah, jalan beraspal. Bahkan, ada jalan berlumpur jika musim hujan tiba, serta melewati hutan-hutan. Maka, para pastor di beberapa paroki seperti di Barong Tongkok, Melapeh, lebih layak menggunakan jeep dobel gardan untuk kunjungan ke stasi-stasi. Sedangkan di Muara Lawa, Tering, dan Laham menggunakan sepeda motor, dan perahu motor.

Dalam pelayanan pastoral umat, mereka dibantu sejumlah katekis, guru agama, bruder, dan suster. Biasanya di setiap stasi sudah ditunjuk ketua umat yang bertugas memimpin ibadat mingguan, di luar kunjungan pastor. Kunjungan ke stasi ada yang dilakukan setiap dua minggu, sebulan bahkan dua bulan sekali, tergantung banyaknya stasi dan tenaga imam yang tersedia.

Berdasar tantangan pastoral di atas, maka pelayanan pastoral difokuskan pada katekese/pendewasaan iman umat melalui Misa, persiapan perkawinan, calon baptis, calon komuni pertama, rekoleksi, Misa pelajar, katekese orang dewasa dari Gereja lain.

Karena tidak ada tenaga sekretariat di paroki, para pastor di Tering, Laham, Muara Lawa, Melapeh juga merangkap tugas kesekretariatan, tugas koster, dan lainnya.

Sedangkan untuk mendukung kemandirian paroki dan umat, sejumlah paroki, seperti Melapeh, Laham, mengelola kebun paroki untuk ditanami karet dan padi gogo.

Berbeda dengan Paroki Tering, penghasilan Paroki Barong Tongkok diperoleh dari kolekte, dari hasil penjualan benda-benda rohani, dari mencari donatur dari daerah lain dan dari pemerintah.

Untuk pola berladang yang berpindah-pindah, pastor Paroki Laham, contohnya mengajak umat untuk berladang menetap, dengan menamam kakao, karet. Untuk itu, Pastor Habing yang terbiasa menginang ini menegaskan,” Saya pun memberi contoh berladang tetap milik paroki.” Di ladang seluas 2.5 hektar dengan tanaman karet ini, pastor sering bekerja dari pagi hingga sore, karena hanya berjarak satu kilometer dari pastoran.

Khusus di Barong, pastor juga melakukan layanan pastoral kesehatan sederhana, seperti pengecekan tekanan darah, memberi nasihat penggunaan obat-obatan herbal, dll. “Kami i sini lebih mengutamakan model pastoral yang murah hati tapi tidak murahan, serta pelayanan pastoral yang holistik yang menyangkut jiwa, raga, rohani, “ papar Pastor Cahyo Yosoutama MSF.

Sabar dan setia
Adanya aneka jenis tantangan, keterbatasan, dan bentuk pastoral, tentu tidak mudah menjadi seorang pastor di paroki pedalaman.

Dari pengalaman sejumlah imam yang berkarya di paroki-paroki tersebut, terungkap bahwa sosok imam yang dibutuhkan, antara lain imam yang setia pada imamat dan pada umatnya, mau belajar dari budaya setempat, menghadirkan semangat persaudaraan di antara umat, menampilkan wajah Kristus, rela hidup sederhana bahkan miskin, mau bekerja keras, tidak banyak menuntut umat, sabar menghadapi segala situasi, mampu memberi teladan hidup rohani yang baik ber­dasar hidup doa, bersifat kegembalaan/kebapaan yang terbuka bagi umat, berjiwa petualang, mau menyapa umat, dan mampu hidup mandiri, serta gembira dalam menjalankan tugasnya. Tentu yang tak kalah penting adalah memiliki fisik dan mental yang kuat.

Dalam hal ini, Romo Cahyo mengingatkan pula, bahwa selain kualitas hidup di atas, sumber kekuatan pastor pedalaman adalah motto tahbisan imamatnya. Sementara Pastor Habing merefleksikan bahwa contoh pastor pedalaman yang baik adalah Yesus sendiri. “Karena Dia datang dari kemuliaan ke dunia untuk menjalankan karya keselamatan dari Bapa-Nya, dengan menjadi manusia yang pendoa, miskin, sederhana, solider, bahkan rela hidup menderita,” jelasnya.

Itulah sekelumit perkembangan Gereja di pedalaman Kaltim setelah 100 tahun karya misi. Ternyata, masih banyak tantangan aktual yang harus digarap Gereja saat ini bersama tenaga pastoral yang ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s